Meskipun bukti empiris sangat banyak di sejumlah disiplin ilmu, banyak orang, terutama di Indonesia, masih menolak untuk menerima teori evolusi, vaksinasi, bahkan kelengkungan Bumi. Jika bukti yang mendukung sains luar biasa banyak dan akurat, mengapa hal tersebut terjadi?

Ya, tentu saja, sejumlah penjelasan yang mungkin, misalnya, banyak yang berpendapat bahwa sistem pendidikan kita yang buruk, mengajar anak-anak tentang sains dengan cara dan pemahaman yg salah. Saya sudah berdiskusi dengan beberapa teman yang jelas-jelas memiliki keyakinan yang salah tentang sains dan ada individu dan organisasi (terutama organisasi agama) yang sengaja membuat kekeliruan tentang sains dalam upaya strategis untuk menghalangi orang untuk menerimanya dan mengajarkannya di sekolah.

Tapi mengapa kita gagal untuk mengajari sains di sekolah dengan benar dan mengapa sebagian orang begitu bersemangat dalam mencegah anak-anak dari penjelasan yg didasari bukti ilmiah? Dengan kata lain, apa yang berbahaya dari teori tersebut? Sebuah seri terbaru dari studi yg meneliti masalah ini, existential anxiety, tentang kematian sebagai alasan orang untuk menolak teori ilmiah dan mendukung kreasionisme (kepercayaan terhadap penciptaan).

Existential Anxiety

Latar belakang pada topik kecemasan eksistensial tentang kematian. Ide dasarnya adalah bahwa manusia (Homo sapies-sapiens) adalah binatang yang unik, kita memiliki kemampuan intelektual untuk merefleksikan diri kita sendiri (self-awareness) dan keadaan eksistensial kita (bahwa kita akan mati). Dari anak usia dini, kita memahami bahwa kita rentan secara fisik. Kita bisa mengalami kecelakaan acak, menjadi korban kejahatan kekerasan, atau didiagnosis dengan penyakit yang mematikan. Pada beberapa titik dalam masa pertumbuhan kita, kita juga mulai sepenuhnya memahami bahwa meskipun kita dapat menghindari beberapa risiko yang fatal melalui perilaku yang baik (misalnya, makan dengan baik, mengenakan sabuk pengaman, dll.), banyak risiko yang di luar kendali kita.

Lebih lanjut kita mulai memahami bahwa kematian tidak bisa dihindari. Artinya, kita adalah salah satu spesies yang benar-benar dapat merenungkan tanggal kematian kita. Sebuah lembaga penelitian telah menunjukkan bahwa kesadaran akan kematian ini memprovokasi sejumlah besar kecemasan dan sebagai hasilnya, manusia berusaha keras untuk berinvestasi dalam sistem kepercayaan yang membantu kita menghadapi dan menolak beratnya kenyataan pahit ini.

Secara khusus, manusia beralih ke pandangan dunia budaya (misalnya, agama) yang mengambil celah kerentanan dari kecemasan akan kematian dengan menawarkan orang arti bahwa keberadaan kita bermakna dan berarti. Dengan kata lain, yakin bahwa kita mungkin bukan hanya sekedar fana, tapi kita di sini karena suatu alasan, juga menawarkan sebuah konsep adanya kehidupan abadi setelah kematian dan penghakiman untuk meredam kecemasan tersebut dan memenuhi “fantasi keadilan hakiki” serta meyakinkan kita bahwa kita adalah makhluk yang berarti dalam alam semesta yang bertujuan.

Dan dengan cara ini, kita lebih dari sekedar fana. Memang, studi menunjukkan bahwa semakin banyak orang percaya bahwa hidup mereka bermakna dan bertujuan, kesadaran mereka akan kematian sangat mengganggu mereka. Singkatnya, makna eksistensial melindungi orang dari kecemasan kematian.

Ok, sekarang kembali ke bagaimana evolusi berkaitan dengan kecemasan eksistensial tentang kematian. Menurut Dr. Jessica Tracy, seorang psikolog di University of British Columbia, dan rekannya, karena orang-orang menyadari kematian mereka, mereka sering mencari rasa makna eksistensial dan teori evolusi, atau setidaknya cara itu sering diajarkan, mungkin tidak menawarkan bantuan dalam pencarian ini. Bahkan, dapat mengancam “sense of meaning” mereka sejauh bahwa orang melihat pendekatan evolusioner sebagai penjelasan yg menunjukkan bahwa hidup ini pada akhirnya tak berarti (yaitu, tidak ada grand design). Namun, hipotesis2 yang menolak evolusi, seperti kreasionisme, dapat memberikan rasa makna eksistensial karena mereka memberikan ada alasan bagi keberadaan kita. Artinya, keberadaan kami melayani beberapa tujuan yang lebih besar.

Untuk menguji ide-ide ini, dalam serangkaian studi, Dr. Tracy dan rekan secara acak ke salah satu orang dari dua kondisi. Dalam satu kondisi, orang diminta untuk berpikir tentang kematian mereka sendiri, sehingga meningkatkan kesadaran mereka tentang kematian. Dalam kondisi lain, orang diminta untuk berpikir tentang rasa sakit gigi. sakit gigi adalah pengalaman yang tidak menyenangkan (anxiety-provoking) , tapi berbeda dengan membangkitkan pikiran kematian. Selanjutnya, mereka membaca artikel yang mendukung desain cerdas dan evolusi. Konsisten dengan ide bahwa kecemasan eksistensial berkaitan dengan sikap tentang evolusi, para peneliti menemukan bahwa orang-orang dalam kondisi memikirkan kematian, dibandingkan dengan mereka yang dalam kondisi memikirkan sakit gigi, menyukai artikel desain cerdas lebih dan artikel evolusi kurang disukai. Berpikir tentang kematian membuat orang lebih simpatik dengan ide desain cerdas dan kurang mendukung evolusi.

Menariknya, dalam studi lain, para peneliti mampu mendapatkan orang-orang yang berpikir tentang kematian untuk mendukung evolusi jika orang-orang ini terkena informasi yang menunjukkan bahwa pendekatan evolusioner untuk mempelajari alam dapat memberikan rasa makna pribadi.

Menurut para peneliti, apa ini menunjukkan bahwa jika orang tidak menganggap evolusi sebagai ancaman terhadap makna hidup, melainkan melihatnya sebagai cara untuk menemukan makna pribadi dengan memahami dunia kita dan dari mana kita berasal, maka orang mungkin kurang tahan terhadap ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, peka terhadap kebutuhan eksistensial manusia untuk arti dan tujuan mungkin penting untuk berhasil mendidik orang tentang bukti ilmiah yang menantang pemahaman kuno yang memegang asumsi tentang dunia.

Bacaan serupa dengan pandangan berbeda: Bagaimana keingintahuan dapat melindungi pikiran dari prasangka – BBC

Sumber:
Tracy, J. L., Hart, J., & Martens, J. P. (2011). Death and Science: The Existential Underpinnings of Belief in Intelligent Design and Discomfort with Evolution. PLoS ONE, 6(3), e17349. http://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0017349

Jurnal bisa dibaca di: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3068159/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s